BAB II
ISI
1.
Biografi
Nasiruddin At - Tusi
Ia adalah Muhammad putra Muhammad putra Hasan Tusi. Ia juga disebut dengan Abu
Ja’far, juga Nashiruddin. Lahir di dunia pada hari sabtu 11 Jumadil Awal 597 H.
yang bertepatan pada 18 Februari 1201. Beliau lahir di Tus. Keluarganya,
sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan, berasal dari Johrud.[1] Ayah
beliau adalah Muhammad bin Hasan, seorang alim, faqih dan ahli hadis yang
terkenal di Tus. Karena beliau bermazhab Syiah, Khajah Nashiruddin Tusi juga
bermazhab Syiah. Ia sejak kecil berguru pada ustad-ustad dan ulama Syiah.[2]
Berdasarkan yang kami ketahui, sejak
Khajah masih kecil dan berusia remaja, ayahnya selalu memberikan perhatian
khusus dan memprioritaskan pendidikan untuk anaknya. Mulanya ayah beliau yang
mengajari Al Qur’an kepadannya, lalu ilmu bahasa Arab dan yang berkaitan
dengannya seperti Nahwu, Sharaf dan Sastra. Kemudian sang ayah menyarankan
beliau untuk belajar Matematika dan berguru pada Kamaluddin Muhammad Hasib.
Beliau juga berguru pada ayahnya dalam Fiqih dan Hadis. Adapun Ilmu Mantiq dan
Falsafah, beliau berguru pada paman dari ibunya yang bernama Shahabuddin Ali
bin Abi Mansur.[3]
Pada suatu hari, yang mana saat itu Khajah
masih seorang remaja, Kamaluddin Muhammad Hasib pergi meninggalkan Tus. Ayahnya
juga meninggal dunia. Sebelum ayah beliau meninggal, sang ayah berwasiat
kepadah Khajah untuk pergi ke luar kota dalam rangka menuntut ilmu. Karena
Neishabur di zaman itu merupakan kota pusat keilmuan dan tempat para ulama,
Khajah berhijrah ke kota itu.
Di Neishabur
Khajah berguru pada Fariduddin Damad Neishaburi. Beliau mempelajari kitab
Isyarat Ibnu Sina darinya.[4] Di
sana beliau juga berguru beberapa waktu pada beberapa alim seperti Qutbuddin
Mishri, Kamaluddin Yunesi Moseli dan Abu Sa’adat Esfahani.[5]
Beliau sangat mencintai berbagai macam
ilmu pengetahuan. Namun, beliau lebih cenderung memperdalam Ilmu Kalam dan
Falasafah. Beliau sendiri bercerita: “Sebagaimana yang diwasiatkan sang ayah,
aku memilih untuk berhijrah ke luar kota. Dalam setiap bidang ilmu, saat aku
menemukan seorang guru, aku berguru padanya. Tapi karena aku punya ketertarikan
tersendiri dalam hal membedakan mana yang benar dan salah, aku lebih cenderung
untuk memperdalam ilmu-ilmu seperti Falsafah dan Kalam.”[6]
Belum berusia 20 tahun Khajah
Nashiruddin Tusi sudah pandai dalam Matematika, Nujum, Fiqih, Ushul Fiqih,
Falsafah dan Kalam.[7] Kegigihannya
dalam belajar membuat beliau menjadi orang yang mahir baik dalam bidang ilmuaqli maupun
ilmu naqli. Beliau adalah pakar dalam berbagai ilmu di zamannya,
khususnya dalam Falsafah, Kalam dan Matematika; sehingga beliau dijuluki
dengan Ustadul Basyar (guru para manusia—pent.)
Kemasyhuran Khajah dalam keilmuannya bertepatan dengan peristiwa penyerangan
Gengis Khan yang pertama pada tahun 616 H. dan kekalahan Sultan Muhammad
Khwarazmshah. Peristiwa itu membuat tanah air Iran, khususnya Khurasan,
diselimuti kekacauan dan ketakutan. Oleh karenanya, sebagaimana orang-orang
lainnya, Khajah memilih untuk pergi meningalkan tanah air dan singgah di tempat
yang aman. Mulanya beliau pergi ke Iraq; lalu saat kembali, ia singgah untuk
bertemu Shahabuddin, kemudian dari situ ia menuju ke Khurasan. Saat itu
Nashiruddin Abdurrahim bin Abi Manshur—seorang alim yang mashyhur di Qahestan
dan berkedudukan di istana Alauddin Muhammad bin Hasan, raja Ismailiyun, dan juga
pernah mendengar kemasyhuran Khajah Nashiruddin Tusi dalam
keilmuannya—mendengar berita pengungsian Khajah[8] dan
ia memintanya untuk tinggal di istana Qahestan.[9] Khajah
menerima ajakannya dan pergi menuju Qahestan. Setiba di sana, Nashiruddin
Abdurrahman menyambut Khajah dengan sebaik-baiknya, memberinya berbagai
kemudahan dan fasilitas, selalu bersikap ramah padanya dan benar-benar
memanfaatkan keberadaan dan keilmuannya.[10]
Nashiruddin Abdurrahman juga seringkali bermusyawarah dengannya dalam banyak
hal.
Pada masa itu, Khajah Nashiruddin Tusi
menerima permintaan Nashiruddin Abdurrahman untuk menerjemahkan kitab Atthaharatul
A’raq Ibnu Maskawaih ke dalam bahasa Farsi. Karena ia ingin kitab
tersebut diterjemahkan untuk diamalkan, beliau menahmbahkan beberapa bagian
yang kebanyakan pembahasannya berkisar pada politik dan tata Negara. [11]Beliau
menyusun kitabRisalah Mainiyah (sebuah kitab tentang astronomi yang
dipercaya sebagai karya Muinuddin putra Nasiruddin) di tempat itu
pula. Selama beliau di Qahestan, beliau selalu sibuk mengkaji kitab-kitab,
menulis, menyusun dan menerjemahkan.[12]
Khajah pernah membacakan sebuah qasidah (semacam
syair) pujian berbahasa Arab tentang Al Mu’tashim Billah, Khalifah dinasti
Abbasiah, dan mengirimkannya ke Baghdad kepada Muayiduddin Ibnul Alqami, mentri
Mu’tashim; kemudian ia meminta Khajah menuliskannya dan menunjukkannya kepada
Khalifah barangkali khalifah akan memintanya untuk tinggal di Baghdad. Ibnul
Alqami adalah seorang yang bermazhab Syiah seperti Khajah Nashiruddin. Saat itu
ia kurang setuju jika Khajah pergi menuju Baghdad.[13] Dalam
sebuah surat yang ditulis untuk Nashiruddin Abdurrahman, Ibnul Alqami
menceritakan surat-menyurat yang dilakukan Khajah Nashiruddin dengan Khalifah.
Oleh karenanya Nashiruddin Abdurrahman membenci Khajah lalu memenjarakannya.
Pada saat itu Alauddin Muhammad adalah raja Ismailyun.
Ia meminta Khajah dari Nashiruddin Abdurrahman. Pada suatu hari saat
Nashiruddin Abdurrahman pergi meninggalkan Qahestan menuju Qazvin, Alauddin
membawa Khajah bersamanya ke kota raja. Alauddin mengidap suatu penyakit yang
membuatnya selalu berburuk sangka dan membenci semua orang. Tapi selama Khajah
bersamanya, ia tidak membenci Khajah bahkan selalu menghormatinya.[14]
Mulai saat itu Khajah Nashiruddin Tusi tinggal di sana dan sering menghabiskan
waktunya untuk membaca di perpustakaan kota itu.[15] Keadaan
Khajah yang seperti itu terus berlangsung hingga terbunuhnya Alauddin dan
digantikannya ia dengan Ruknuddin Khevarshah.
Meskipun
Khajah Nashiruddin Tusi memiliki kedudukan yang mulia selama beliau tinggal
bersama bangsa Ismailiyun (seperti menjabat sebagai mentri dan lain
sebagainya),[16] akan
tetapi beliau selalu menjauhi kenikmatan-kenikmatan duniawi dan kesenangan
materi yang ada; beliau lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca,
menulis, menerjemahkan dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya. Sehingga lahir
karya-karya beliau seperti Syarhul Isyarat, Risalah Muiniyah, Asasul
Iqtibas, Risalah Tula va Tabra, Tahrir Iqlidus dan Tahrir
Aqramanalus.[17]
Di masa
kerajaan Ruknuddin, terjadi perubahan lain lagi pada kehidupan Khajah
Nashiruddin Tusi: Hulaku Khan mengirim pasukan dan menyerang Iran. Setelah
menguasai benteng demi benteng, ia sampai di Alamaut (sebuah benteng atau
istana yang saat itu Khajah Nashiruddin Tusi berada di situ) kemudian Meimun
Dez (istana yang mana Ruknuddin tinggal di dalamnya). Ruknuddin menyerah.
Bersama Khajah dan juga beberapa orang lainnya dibawa menuju istana Hulaku
Khan. Sultan Mongol sejak sebelumnya telah mengenal nama Khajah Nashiruddin
Tusi karena kemasyhurannya dalam Falsafah dan Matematika, juga kepandaiannya
dalam menggunakan zij wa rashad (tabel astronomi yang sering
digunakan pada masa itu).[18] Sultan
Mongol lebih tertarik lagi kepada beliau karena desakan Khajah terhadap
Ruknuddin untuk menerima kewarganegaraan orang-orang Mongol dalam pemerintahan
dan birokrasi juga pemberian pajak kepada mereka. Sultan juga tertarik padanya
karena ramalannya mengenai kehancuran Ismailiyun dan dorongannya terhadap
Hulaku Khan untuk menguasai benteng. Sultan juga sangat berpegang pada
hukum-hukum ilmu nujum dan selalu meminta pendapat dari para ahli nujum; oleh
karenanya ia memberikan kedudukan ini kepada Khajah dan memintanya bekerja
untuknya.[19]
Jadi mulanya Khajah berlindung di istana-istana
Ismailiyun saat peristiwa penyerangan Gengis Khan yang pertama, lalu pada
penyerangan kedua, yakni invasi Hulaku Khan, ia terbebaskan dari penjara dan
berhasil mendapatkan kedudukan istimewa di istana Hulaku Khan: menjadi ahli
nujum khusus untuknya.[20] Mulai
saat itu ia mulai menjadi orang yang istimewa bagi Hulaku Khan; dia selalu
meminta pendapat dari Khajah sebelum menjalankan urusan penting.[21]
Satu perkara yang sangat sensitif dalam
kehidupan Khajah di waktu itu adalah peranannya dalam menjatuhkan kekhilafahan
Al Mu’tashim Billah, khalifah terakhir dinasti Abbasiyah. Mengenai masalah ini
disebutkan dalam beberapa kitab sejarah bahwa setelah Hulaku Khan menguasai
benteng-benteng dan istana-istana Ismailiyun di Qazvin, ia pergi ke Hamadan. Ia
ragu-ragu untuk mengirim pasukan dalam rangka menyerang Baghdad; oleh karena
itu ia mulai meminta pertimbangan dan musyawarah. Hisamuddin Munajim (salah
satu ahli nujumnya) berkata kepada Hulaku Khan bahwa tidak baik untuk menyerang
istana Baghdad; karena setiap raja yang berniat menyerang dinasti Abbasiyah
pasti tidak mendapatkan apa-apa.[22] Akan
tetapi Khajah berkata kepadanya bahwa tidak akan terjadi apa-apa selain
tergulingkannya khalifah dan digantikan dengan Hulaku Khan. Lalu ia menjelaskan
bahwa banyak tokoh besar Islam yang telah syahid dan tidak timbul keburukan
apa-apa.[23]
Ketika Hulaku Khan membabi buta dan
benar-benar mendesak untuk membunuh khalifah, banyak yang mencegahnya dan
berkata bahwa mengotori pedang dengan darah khalifah akan menimbulkan gejolak
dan kebangkitan umum.[24]
Hisamuddin Munajim berkata, “Jika khalifah
terbunuh, alam semesta akan menjadi gelap dan akan terlihat pertanda-pertanda
kiamat.”[25] Hulaku
Khan mulai gugup mendengar perkataannya lalu bermusyawarah dengan Khajah
Nashiruddin. Khajah berkata, “Peredaran alam semesta bertumpu pada tabiatnya.
Banyak orang-orang yang lebih mulia dari Khalifah Bani Abbas yang terbunuh tapi
alam semesta tetap terjaga…”[26] Hulaku
Khan menyukai pendapatnya dan akhirnya khalifah terbunuh. Setelah itu Khajah
diperintahkan Hulaku Khan untuk mendeklarasikan kemenangannya.
Setelah Hulaku Khan menjadikan Maraqe
sebagai ibu kota pada tahun 657 H., ia memerintahkan dibangunnya observatorium
untuk para ahli nujum. Ia menjadikan tempat itu sebagai tempat bekerja Khajah
Nashiruddin. Ia memberikan hak kepadanya untuk memanfaatkan ilmuan lainnya
dalam perkara-perkara yang ia butuhkan. Jika Khajah membutuhkan suatu peralatan
atau kebutuhan lainnya, ia dipersilahkan untuk memerintahkan para pekerja di
bawahnya.[27] Sejak
saat itu, selain mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ilmiah seperti menulis dan
mengajara, ia juga memiliki kesibukan di observatorium, musyawarah dengan
Ilkhan Mongol dan menyelesaikan urusan-urusan istana.
Selain kesibukan sehari-hari di
observatoriumnya, Khajah juga memiliki kegiatan penting lainnya: beliau
membangun sebuah perputakaan besar berkat usaha beliau mengumpulkan kitab-kitab
berharga baik yang kuno maupun yang baru yang kebanyakan kitab-kitab tersebut
berasal dari Baghdad, Syam dan daerah-daerah kekuasaan Hulaku Khan yang lain.
Jumlah kitab-kitab tersebut kira-kira empat ratus ribu jilid. Yang lebih
menakjubkan lagi, observatorium tempat Khajah bekerja ia jadikan sebagai pusat
keilmuan dan penelitian; ia mengajak para ilmuan dan ulama Muslim dari berbagai
daerah untuk berkumpul di situ dan sibuk mengerjakan kegiatan-kegiatan ilmiah.[28]
Pada masa itu Khajah diperintahkan Hulaku
Khan untuk mengawasi kelompok yang terbentuk untuk membuat zij (semacam
tabel astronomi di zaman dahulu—pent.) Ia menuliskan hasil
penelitian-penelitian ilmiahnya seputar perbintangan atau nujum dalam sebuah
kitab tebal yang dikenal dengan Zij Ilkhani. Penyusunan kitab tersebut usai
pada tahun 670 H., yakni tujuh tahun sepeninggal Hulaku Khan dan tergantikannya
dia dengan Abaqahkan.[29]
Sepeninggal Hulaku Khan, Khajah
Nashiruddin tetap menjaga posisi dan kedudukan materi serta maknawinya. Saat
Abaqakhan menjadi pengganti Hulaku Khan, Khajah tetap menjadi orang terdekat
dengan raja dalam bermusyawarah.[30] Khajah
tetap melanjutkan aktifitas-aktifitasnya seperti dulu.
Kegiatan lain beliau dalam masalah
keagamaan salah satunya adalah penulisan sebuah kitab yang bertujuan untuk
menetapkan kebenaran mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariah. Kitab-kitab tersebut
seperti: Tajridul I’tiqad, Qawaidul Aqaid dan Resale e Emamat.[31]
Karena Khajah juga termasuk seorang mentri
dalam kerajaan Ilkhan, maka kegiatan dan aktifitasnya tidak hanya terbatas di
ibu kota saja; Khajah banyak bepergian ke tempat-tempat lainnya. Misalnya pada
tahun 662 H. beliau pergi ke Baghdad dengan tujuan mengumpulkan sebisa mungkin
kitab-kitab yang tersisa di ssana untuk disimpan di Maraqe. Beliau juga pergi
ke tempat-tempat lainnya seperti Wasith, Bashrah dan kota-kota Iraq yang
lainnya untuk mengerjakan urusan-urusan kerajaan seperti kunjungan dalam rangka
mencari informasi tentang keadaan rakyat yang tinggal di suatu daerah tertentu,
urusan-urusan dengan para tentara, mengumpulkan kitab-kitab dan lain
sebagainya. Kemudian saat urusannya selesai ia kembali ke Maraqe.[32]
Pada tahun 672 H. Khajah ikut bersama
sultan Abaqakhan bersama rombongannya menuju Baghdad untuk menghabiskan musim
dingin di sana. Lalu saat musim dingin usai dan Abaqakhan kembali ke ibu kota
musim panasnya, Maraqe, Khajah tetap tinggal di Baghdad untuk mengerjakan
tugasnya.[33] Di
sana beliau mengumpulkan informasi mengenai penduduk setempat tapi saat itulah
ia jatuh sakit. Saat ia memahami bahwa penyakitnya sudah tidak dapat
disembuhkan lagi, ia berwasiat kepada orang-orang terdekatnya jika ia mati
untuk dimakamkan di dekat makam Imam Musa bin Ja’far as. Salah satu orang
terdekatnya berkata, “Bagaimana jika jasad muliamu kami kuburkan di Najaf
saja?” Khajah menjawab, “Saya malu kepada Imam Musa bin Ja’far. Saya mati di
dekat makamnya tapi dikuburkan di tempat lain.”[34]
Akhirnya pada tanggal 18 Dzulhijjah
tahun 672 H., dan bertepatan pada hari Idul Ghadir, Khajah menghembuskan nafas
terakhirnya. Sebagaimana yang ia wasiatkan sebelumnya, sahabat-sahabatnya mulai
sibuk menggali makam untuknya di dekat makam suci Imam Musa Al Kadzim as.
Beberapa ahli sejarah menjelaskan bahwa ketika mereka hendak menggali kubur
untuknya, mereka menemukan kuburan kosong yang telah disiapkan lengkap dengan
batu nisan dan ukiran; kuburan itu pernah dibuat untuk khalifah Annashir
Lidinillah, tapi khalifah dikuburkan di tempat lain.
Demikianlah Khajah Nashiruddin Tusi
meninggal dunia di Kadzimain dan di batu nisan makamnya tertulis ayat 18 dari
surah Al Kahfi.[35]
2.
Orang-Orang
yang Berhubungan dengan Khajah
1.
Anak-Anak
dan Para Cucu
Khajah Nashiruddin Tusi memiliki
tiga anak lelaki: Shadraddun Ali, Ashiluddin Hasan dan Fakhruddin Ahmad.
Shadraddun Ali adalah pengganti sang ayah sepeninggalnya. Beberapa masa sebelum
dan sesudah kepergian ayahnya, Shadraddun Ali sempat menjadi pimpinan di
observatorium Maraqe. Selain ia memiliki kepandaian ilmiah, dari segi seni ia
juga seorang penyair hebat. Ashiluddin Hasan adalah seorang sastrawan, ilmuan
dan insinyur. Ia sangat mahir di bidang sastra. Sepeninggal ayah dan kakaknya,
atas perintah Iljaytu ia menjadi pimpinan di observatorium Maraqe. Fakhruddin
Ahmad juga tak jauh beda dengan kedua saudaranya; ia adalah seorang yang
terkenal kepandaian dan keilmuannya.
Banyak pula orang-orang keturunan
Khajah Nashiruddin Tusi yang tinggal di Ordubad dan Azarbaijan yang juga
mendapatkan jabatan dalam pemerintahan saat itu. Mereka seperti Hatim Bik
Ordubadi yang pernah mendapatkan julukan kehormatan dari Abbas I’timad Dawlah
yang pada saat itu julukan tersebut sebanding dengan julukan Shadru
A’dzam.[36]
2.
Para Murid
Khajah
Selain keturunan beliau dari segi
silsilah, banyak juga keturunan beliau dari segi pemikiran dan keilmuan. Semasa
hayatnya, Khajah sering mengajar dan memiliki banyak murid. Di antara mereka
adalah:
a.
Jamaluddin Abu Manshur Husain bin Muthahar
Hilli
Ia juga dikenal dengan Allamah
Hilli. Ia sama seperti Khajah Nashiruddin, sama-sama mengalami peristiwa
penyerangan tentara Mongol dan memiliki peran yang tak jauh beda dari peran
gurunya. Sebagaimana yang dicatat oleh sejarawan Syiah, dialog-dialog yang
dilakukan oleh Allamah Hilli di masa Uljaitu begitu efektif sehingga
menyebabkan diresmikannya mazhab Syiah di Iran dan keluar dari kefakuman
sebelumnya.[37]
b.
Kamaluddin
Maitsam Bahrani
Diriwayatkan bahwa Kamaluddin
Maitsam adalah murid Nashiruddin dalam Falsafah dan Nashiruddin murid
Kamaluddin Maitsam dalam Fiqih. Tidak hanya itu, Kamaluddin juga guru Allamah
Hilli. Ada lima belas karya yang ia tinggalkan yang beberapa di antaranya
berkenaan dengan masalah keimaman. Ia lebih dikenal dengan orang yang pernah
menuliskan syarah Nahjul Balaghah yang jumlahnya lebih dari dua puluh jilid.
Banyak lagi murid-murid beliau yang kita
tidak perlu menjelaskannya satu per satu di sini; kita hanya menyebutkan nama
mereka saja: Sayid Ghiyatsuddin Abul Mudzafar, Abul Fadhail Hasan bin Muhammad
Astarabadi, Kamaluddin Abduraza yang dikenal dengan Ibnul Fauti (seorang
sejarawan abad ke-7 H.), Ibrahim bin Syaikh Sa’aduddin Juwaini yang dikenal
dengan Hamui, Syaikh Fariduddin Abu Bakar bin Ali Syirazi dan juga Abdullah
Atsiruddin Umani.[38]
3.
Akar-Akar
Pemikiran Nasiruddin At - Tusi
Setiap orang memiliki pemikiran yang
terpengaruh oleh lingkungan alam dan lingkungan sosial tempat ia berada. Begitu
pula dengan Khajah; pola pikir, keilmuan, keyakinan-keyakinannya, semuanya
tidak diragukan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Di sini mari kita
membahas lingkungan keluarga dan sosial khajah yang memberikan
pengaruh-pengaruh tertentu terhadap pemikiran beliau.
1.
Aqidah dan
Keyakinan
Sebagaimana sebelumnya telah
dijelaskan bahwa Khajah Nashiruddin Tusi lahir dan dibesarkan di tengah-tengah
keluarga yang bermazhab Syiah, oleh karenanya beliau sering berguru pada
ustad-ustad berfahan Syiah. Berangkat dari pemahaman yang telah ditanamkan di
kalbu Khajah sejak kecil, lambat laun beliau dengan sendirinya memperdalam dan
mengkokohkan keyakinannya hingga tercipta keyakinan agama yang matang.
Secara global dapat dikatakan bahwa dalam hayatnya,
Khajah memiliki dua tujuan utama. Pertama adalah berdakwah dan menyebarkan
ajaran Syiah Imamiah Itsna Asyariah; dan yang kedua adalah mengkaji ilmu-ilmu
lainnya baiknaqli maupun aqli, juga menyebarkannya. Ia
menyebarkan Syiah dengan cara menguatkan pondasi-pondasi pemikiran aqidah Syiah
dengan menggunakan kaidah-kaidah rasional. Dalam rangka ini, beliau menulis
beberapa kitab yang di antaranya adalah, Tajridul I’tiqad, Resale e Emamat, dan
lain sebagainya. Beliau juga memperkokoh pemeikiran kalam Syiah Imamiah Itsna
Asyariah dengan menguatkan dalil-dalilnya.[39] Beliau
sangat ahli dalam menetapkan kebenaran mazhabnya dengan menggunakan dalil-dalil
yang kuat dan diterima.
2.
Keahlian
dalam Bidang Falsafah
Sejak kecil beliau memang digiring
untuk terus menimba ilmu. Usaha yang beliau upayakan untuk menggali ilmu memang
tidak bisa dipungkiri. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa beliau adalah
pencakup ilmu-ilmu. Di masa hayatnya ia termasuk orang yang ahli di berbagai
macam bidang keilmuan.[40] Meski
beliau tertarik di banyak bidang, tapi, sebagaimana yang telah disinggung
sebelumnya, beliau memiliki ketertarikan tersendiri dan lebih kepada ilmu Kalam
dan Falsafah. Di antara para tokoh filsuf, Khajah memiliki kecenderungan lebih
kepada Farabi dan kebanyakan pemikiran falsafinya terpengaruh oleh
pemikiran-pemikiranHakim Tsani, Abu Nashr Farabi. Oleh karena itu banyak
sekali kesamaan pemikiran antara beliau dengan Farabi. Ia sendiri memberikan
pengakuannya tentang ini; dalam makalah ketiga Akhlak e Nashiri beliau
berkata, “Kebanyakan yang tertulis dalam makalah ini adalah tukilan dari
pemikiran Farabi.”[41]
Khajah juga sangat menerima
pemikiran-pemikiran Syaikh Rais Abu Ali Sina (Ibnu Sina) dan tidak ditemukan
dalam tulisan-tulisan Khajah pernyataan yang menjelaskan pertentangan beliau
dengan Ibnu Sina.[42] Tidak
hanya itu, banyak juga bukti-bukti dalam karyanya yang menunjukkan bahwa beliau
juga mendapatkan pengaruh-pengaruh dari Ghazali dan Ibnu Maqfa’.
4.
Pengalaman-Pengalaman
Hidup
Melihat sejarah hidupnya, yang mana
sejak muda beliau telah melakukan banyak perjalanan ke kota-kota tertentu untuk
menimba ilmu, begitu juga tinggalnya beliau di istana-istana Ismailiyun,
keberadaannya di istana Hulaku Khan dan Abaqakhan menunjukkan bahwa beliau
orang yang memiliki banyak pengalaman penting dalam hidupnya. Bukti
pengalaman-pengalaman ini dapat disaksikan dalam karya-karya tulis maupun
pengamalan ilmu yang beliau dapatkan dalam panggung politik, khususnya saat
beliau berada di istana Ismailiyun yang mana pada waktu itu beliau menambah
bobot karya tulisnya, Akhlak e Nashiri. Dalam peristiwa-peristiwa genting
seperti penyerangan tentara Mongol, beliau berhasil melewati semuanya dengan
baik dan bahkan mendapatkan tempat yang lebih baik setelahnya sehingga beliau
dapat memberikan pelayanan-pelayanannya luar biasa bagi masyarakat dan pengikut
mazhab Syiah.
1.
Khajah
Nashiruddin Tusi dalam Pentas Sejarah
Khajah Nashiruddin Tusi adalah orang
yang berparas rupawan dan berperagai baik. Pemurah, penyabar, berpenampilan
baik, cendikia, cerdik namun rendah hati.[43] Ia
memiliki keahlian di berbagai bidang keilmuan di zamannya. Beliau juga telah
mempersembahkan berbagai karyanya sehingga mungkin jumlahnya ada seratus buah
karya (baik kitab maupun risalah).[44]
Khajah
juga seorang yang gigih mengetuk pintu demi pintu kekuasaan di zamannya untuk
mewujudkan tujuan-tujuan politik dan budaya yang memiliki gambaran tertentu di
benaknya. Mulanya ia melibatkan diri di pemerintahan Ismailiyun; pada masa ini
Khajah benar-benar dapat memanfaatkan pemikiran-pemikiran falsafi mereka dan
memuaskan hasrat rasa ingin tahunya. Setelah itu ia juga berusaha menembus
pintu pemerintahan Khalifah; tapi karena ada Ibnu Alqami yang menyainginya, ia
tidak berhasil. Kemudian ia berhasil menempatkan diri di pemerintahan Mongol;
ia meraih peranan yang sangat istimewa dan kedudukan yang tinggi.[45]
Dengan menguasai ekonomi kekuasaan
Ilkhani, Khajah tampil di medan politik dan keilmuan. Di tengah-tengah
aktifitas politiknya beliau memberikan kekuatan untuk para pengikut mazhab
Syiah Itsna Asyariah. Ia menjaga sisitim pemerintahan dari kehancuran dan
bahkan melengkapinya dengan kesempurnaan. Begitu juga saat ia mempercayakan
keluarga Juwaini dalam urusan pemerintahan, dengan bijak ia membebaskan tangan
mereka untuk melakukan apa yang terbaik dalam pekerjaan mereka; dan tanpa ada
rasa iri dan takut tersaingi khajah membangun hubungan baik dengan mereka. Di
saat-saat tertentu saat mereka memiliki suatu keputusan, Khajah pun
mendukungnya. Inilah salah satu sebab kemakmuran Iran dan keterjagaannya dari
kehancuran. Ia juga menunjukkan peranannya dalam menjaga tanah air kecintaan
dengan memberikan wewenang-wewenang pemerintahan kepada anak-anak dan
orang-orang yang sepemikiran dengannya.[46]
Pada masa itulah ia menjalankan
peranan pentingnya untuk keterjagaan Iran. Ia adalah satu-satunya orang
terbesar yang menjalani peran penting itu. Pada hakikatnya, apa yang ia lakukan
adalah menghidupkan dua perkara yang sangat besar:
a.
mazhab Syiah
yang saat itu merupakan mazhab yang mendarah daging bagi rakyat Iran.
Sebelumnya pemikiran Syiah mengalami kefakuman akibat berkuasanya
kekhilafahan Sunni di Iran untuk beberapa lama. Berkat jasa Khajah, Syiah
menjadi pemikiran yang dapat dibanggakan dalam perkara kemasyarakatan bahkan
politik. Lalu lambat laun akar-akarnya semakin kuat tertanam yang kelak menjadi
mazhab resmi negri Iran.
b.
Berdirinya pusat
keilmuan dan kesenian Maraqe.
Yang mana dapat dikatakan bahwa itulah kazanah tempat terkumpulnya keilmuan
dan kesenian Iran sejak awal hingga zaman itu.[47] Tempat
itu adalah tempat terpenting ketiga dari dua pusat keilmuan dan kesenian yang
telah dibangun sebelumnya: yang pertama adalah pusat keilmuan dan kesenian
Jundi Shapur yang telah berdiri di Iran jauh sebelum kedatangan Islam, dan yang
kedua adalah Madrasah Nidzamiyah yang telah didirikan oleh Nidzamul Malak Tusi
di Baghdad.[48]
Khajah Rasyiduddin Fadhlullah Hamadani menyebut upaya itu sebagai upaya dan
usaha yang sangat luar biasa. Khajah mengumpulkan segala peninggalan dan
karya-karya seni yang ia temukan di berbagai daerah di Iran dan mengabadikannya
di Maraqe. Tidak hanya itu, Khajah juga mengumpulkan para seniman, ilmuan dan
ulama dari berbagai daerah di Maraqe yang hasilnya adalah berbaurnya budaya
barat dan timur dalam kesenian dan kebudayaan baru yang lebih unggul untuk
tampil di panggung dunia. Salah satu contoh dari usaha tersebut adalah
terbangunnya observatorium Maraqe.[49] Observatorium
dan perpustakaan besar Maraqeh adalah karya luar biasa yang bukan hanya
khayalan.
2.
Khajah di
Mata Iran
Khajah Nashiruddin Tusi termasuk
orang yang meninggalkan nama baik untuk selalu dikenang oleh orang-orang
setelahnya. Allamah Hilli mengenai luasnya lautan ilmu yang beliau kuasai
berkata, “Syaikh ini adalah orang pertama di zamannya yang menguasai berbagai
ilmu baik aqli maupun naqli.” Ia juga berkata, “Ia
adalah ustad semua manusia dan akal ke-sebelas.”[50]
Begitu pula mengenai keagungan
akhlaknya ia berkata, “Dari segi perangai, ia adalah orang yang berperangai
paling baik yang pernah kami lihat.”[51]
Qadhi
Nurullah Shustari—seorang ulama yang pernah hidup di India—begitu memuji
keahlian Khajah Nashiruddin Tusi dalam bidang falsafah seakan beliau tidak ada
tandingannya; ia selalu menjadi rujukan orang-orang besar, berwawasan luas dan
memiliki kecerdasan luar biasa.[52]
Baru-baru ini pun almarhum Mujtaba Mainawi
pernah menyebut Khajah sebagai alhi filsafat dan hikmat terbaik di negri timur
dan juga ahli matematika serta astronomi terbaik di dunia. Menurutnya, Khajah
bagaikan Firdausi; yakni selalu menciptakan inovasi dan hal-hal baru.[53]
Sebelum dan sesudah Revolusi Islami
Iran sering ditulis makalah-makalah dan diadakan seminar-seminar mengenai
beliau. Juga dibangun sebuah universitas dengan namanya yang mana hal tersebut
menunjukkan betapa tingginya martabat Khajah dalam keilmuan.
Kedudukan dan martabat Khajah
Nashiruddin Tusi dalam sejarah politik Iran tidak dapat dipungkiri. Khajah
adalah orang yang berjasa besar bagi Iran dan rakyat Iran yang mana semuanya
berhutang kepadanya. Oleh karena itu ia dikatakan mirip dengan Firdausi. Kalau
Firdausi menghidupkan kembali bangsa ajam, yakni orang-orang Iran, maka Khajah
adalah orang yang menghidupkan kembali kebudayaan Iran setelah penyerangan
Mongol. Ia adalah orang yang mengumpulkan kembali karya-karya seni dan
cerminan-cerminan kebudayaan Iran yang hampir mati lalu memercikkan ruh
kehidupan kepadanya.[54]
3.
Khajah dalam
Peradaban Islam
Dalam dunia Islam, Khajah dikenal
dengan dua hal yang secara lahiriah berbeda jauh: yang pertama beliau dikenal
oleh orang-orang Sunni dan ulamanya sebagai pembangkang yang menyebabkan
hancurnya kekhilafahan Abbasiah dan terbunuhnya sang Khalifah; sehingga
orang-orang seperti Ibnu Taimiyah Hanbali dan muridnya Ibnu Qayim sangat
menggebu dalam mencemoohnya.[55] Tapi
di sisi lain, karena berbagai jasanya, banyak ulama baik dari kalangan Syiah
maupun Sunni yang memujinya.
Quthbuddin Akshwari berkata, “Khajah
adalah orang yang pandai dan tinggi ilmunya sehingga semua orang, baik yang
berada dalam kelompoknya maupun lawannya, tunduk kepadanya karena mendengar
dalil-dalil masuk akal yang dibawakan beliau juga karena ayat dan riwayat yang
ia bawakan; begitu juga semua orang tunduk saat merujuk kepadanya.”[56]
Shafadi dalam syarah Ummat Ajam berkata,
“Ia adalah orang yang tidak ada satupun di zamannya yang melebihinya dalam
Almagest (sebuah istilah dalam ilmu Astronomi).”[57] Fadhil
Jabali dalam mukadimah Kasyful Dzunun, saat menyebutkan penulis-penulis terbaik
dalam pandangannya, ia meletakkan Muhaqqiq Tusi dalam urutan pertama.[58] Ibnu
Ibri dalam kitab Mukhtasharud Duwal berkata, “Di adalah
seorang filsuf agung yang menguatkan pemikiran-pemikiran para terdahulu dan
menumpas keraguan-keraguan para pemikir baru.”[59]
Ibnu Syakir berkata tentangnya: “Khajah
orang yang berpandangan lurus, rupawan, dermawan, bijaksana, berpergaulan baik,
cerdas, dan termasuk cendikiawan di zamannya.”
Dengan pendekatan yang Khajah
lakukan kepada Hulaku Khan, ia dapat membela kepentingan-kepentingan para
pemeluk mazhab Syiah, para alawi dan ulama. Ia berbuat baik kepada mereka,
memperkerjakan mereka, menggunakan hak keuangan yang dimilikinya dengan baik
untuk kemaslahatan bersama; dan dengan keadaan seperti itu beliau tetap rendah
hati, murah senyum dan selalu bersikap baik dalam pergaulannya.[60]
Abdurrazziq Lahiji mengakui bahwa
Syarah Isyarat milik Ibnu Sina milik Khajah Nashiruddin Tusi
adalah tulisan terbaik di antara tulisan-tulisan seputar pemikiran Ibnu Sina.
Sering terdengar bahwa para penyusun Rijalus
Syiah yang dikenal selalu meragukan para perawi hadis mengecualikan
Khajah; mereka menganggapnya sebagai orang terpercaya. Mereka memberikan
berbagai julukan untuk Khajah yang di antaranya seperti Syaikhus Tsiqat
wal Ajila’, Hujatul Firqatin Najiyah,Muassisu Asasid Din, Man
Intahat Ilaihi Riyasatul Imamah dan lain sebagainya.[61]
4.
Khajah dalam
Kaca Mata Barat
Kemakrufan Khajah di dunia barat
kebanyakan karena karya-karya ilmiah dan pengamalan beliau. Misalnya Teiko
Brahe dengan mencontoh observatorium Maraqe, mampu membangun observatorium yang
dikenal dengan Ozaninberg di Denmark. Karya-karya beliau dalam Matematika dan
Geometri khususnya yang membuat beliau terpandang di mata ilmuan barat. George
Sarten menyebut Khajah sebagai ahli matematika terbaik di dunia Islam.
Broklemen seorang ilmuan Jerman berkata, “Ia adalah ilmuan terbesar di abad
ke-7 dan penulis terbaik di abad itu.”[62]
Hendri Korben juga berkata, “Jika ajaran
dan pemikiran Ibnu Sina terus terjaga, sebab pertamanya adalah keberadaan
Khajah Nashiruddin Tusi.”[63]
Karena Khajah adalah orang pertama yang
melepaskan ilmu Trigeometri dan memisahkannya dari ilmu Falak, maka tidak heran
jika dalam buku-buku seputar Trigeometri sering disebut nama beliau.
Auguste Comte dalam penanggalan khusus yang dibuatnya, menjadikan nama Ibnu
Sina dan Khajah Nashiruddin Tusi sebagai nama hari dalam penanggalan itu.[64] Begitu
juga untuk menghormati Khajah, para ilmuan Barat memeberi nama salah satu
gunung di bulan dengan namanya.[65]
5.
Hasil karya
Nasiruddin At – Tusi
Meskipun
Nasiruddin At-Tusi
tidak mampu mencegah daripada terjadinya serangan bangsa Mongol ke atas
Baghdad, paling tidak Nasiruddin berjaya menyelamatkan dirinya dan masih
berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hulagu
dikatakan sangat bangga kerana berjaya menakluki Baghdad dan lebih bangga lagi
kerana ilmuwan terkemuka seperti at-Tusi boleh bergabung bersamanya. Hulagu juga amat gembira, ketika
Nasirrudin mengungkapkan rencananya untuk membangunkan Observatorium di
Malagha. Saat itu, Hulagu telah menjadikan Malagha yang berada di wilayah
Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada tahun 1259, al-Tusi pun mulai
membangun Observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu
masih ada hingga sekarang. Observatorium
Malagha mulai beroperasi pada tahun 1262. Pembangunan dan operasi Observatorium
itu melibatkan sarjana dari Parsi dan dibantu oleh ahli-ahli
astronomi dari China. Tekonologi yang digunakan di Observatorium itu adalah
yang tercanggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi peneropong
angkasa yang digunakan di Observatorium itu ternyata merupakan penemuan
Nasiruddin, salah satunya adalah kuadran azimuth.
Selain itu, beliau
juga membangunkan perpustakaan di Observatoriumnya itu. Koleksi bukunya sangat
lengkap, terdiri dari berbagai ilmu pengetahuan. Di tempat itu, at-Tusi tidak
hanya mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan
matematik serta falsafah. Di
Observatorium yang dipimpinnya itu, at-Tusi berhasil membuat jadual pergerakan
planet yang sangat tepat. Sumbangan lainnya yang amat penting bagi perkembangan
astronomi adalah kitab Zij-i Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Parsi dan
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12
tahun memimpin Obeservatorium Malagha. Selain
itu, at-Tusi juga berjaya menulis kitab terkemuka lainnya berudul Al-Tadhkira
fi’ilm Al-hay’a (Memoir Astronomi). Nasiruddin mampul memodifikasi model
semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga
keseragaman rotasi benda-benda langit. Beliau wafat pada 26 Jun 1274 di
Baghdad. Meskipun begitu, jasa dan penglibatannyanya dalam pengembangan ilmu
pengetahuan masih tetap dikenang sehingga ke hari ini.
1.
Karya dan Pencapaian
Nasiruddin at-Tusi
a. Selama mendedikasikan hidupnya dalam pengembangan ilmu
pengetahuan, Nasiruddin At-Tusi telah menulis berbagai jenis kitab yang
mengupas bermacam ilmu pengetahuan. Di antara kitab yang Berjaya ditulisnya itu
antara lain; kitab Tajrid-al-’Aqaid, sebuah kajian tentang Ilmu Kalam; serta
Al-Tadhkirah fi’ilm al-hay’ah, sebuah memoir tentang ilmu astronomi.
b. Kitab tentang astronomi yang ditulis Nasiruddin itu banyak
mendapat komentar dari pakar-pakar astronomi. Komentar-komentar itu dibukukan
dalam sebuah buku berjudul Sharh al-Tadhkirah (Sebuah Komentar atas
Al-Tadhkirah) yang ditulis Abd al-Ali ibn Muhammad ibn al-Husayn al-Birjandi
dan Nazzam Nishapuri.
c. Selain itu, Nasiruddin juga menulis kitab berjudul
Akhlaq-i-Nasri yang mengupas tentang etika. Kitab lainnya yang tidak kurang
popularnya adalah Al-Risalah Al-Asturlabiyah (Risalah Astrolabe). Kitab
ini mengupas tentang peralatan yang digunakan dalam astronomi. Di bidang
astronomi, Nasiruddin juga menulis risalah yang amat populer, yakni Zij-i
ilkhani (Ilkhanic Tables). Ia juga menulis Sharh Al-Isharat, sebuah kritik
terhadap hasil kerja Ibnu Sina.
d. Selama tinggal di Nishapur, Nasiruddin memiliki reputasi yang
cemerlang, sebagai ilmuwan yang berbeza dari yang lain. Pencapaian mengagumkan
yang berjaya dilakarkan oleh Nasiruddin dalam bidang matematik adalah
berkenaan dengan penghasilan rumus sinus untuk segitiga, yakni; a / sin A
= b / sin B = c / sin C.
e. penghasilan
rumus sinus untuk segitiga, yakni; a / sin A = b / sin B = c / sin C.
2. Kontribusi Sang Ilmuwan bagi Sains
a.
Astronomi
Beliau menulis beragam kitab yang mengupas tentang Astronomi. al-Tusi juga membangunkan observatorium yang mampu menghasilkan jadual pergerakan planet secara tepat. Model sistem plenaterium yang dibuatnya diyakini paling maju pada zamannya. Dia juga berhasil menemukan sebuah teknik geometrik yang dikenal dengan al-Tusi-couple. Sejarah juga mencatat, at-Tusi sebagai ahli astronomi pertama yang Berjaya mengungkapkan bukti observasi empiris tentang rotasi Bumi.
Beliau menulis beragam kitab yang mengupas tentang Astronomi. al-Tusi juga membangunkan observatorium yang mampu menghasilkan jadual pergerakan planet secara tepat. Model sistem plenaterium yang dibuatnya diyakini paling maju pada zamannya. Dia juga berhasil menemukan sebuah teknik geometrik yang dikenal dengan al-Tusi-couple. Sejarah juga mencatat, at-Tusi sebagai ahli astronomi pertama yang Berjaya mengungkapkan bukti observasi empiris tentang rotasi Bumi.
b.
Biologi
Beliau juga turut memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu hayat atau biologi. Beliau menulis secara luas tentang biologi. At-Tusi menempatkan dirinya sebagai perintis awal dalam evolusi biologi. Dia memulakan teorinya tentang evolusi dengan alam semesta yang terdiri dari elemen-eleman yang sama dan mirip. Menurutnya, kontradiksi internal mulai tampak , dan sebagai sebuah hasil, beberapa zat mulai berkembang lebih cepat dan berbeda dengan zat lain. Beliau lalu menjelaskan bagaimana elemen-elemen berkembang menjadi mineral kemudian tanaman, kemudian haiwan dan kemudian manusia. Di juga menjelaskan bagaimana variabiliti heriditi merupakan faktor penting dalam evolusi biologi mahluk hidup.
Beliau juga turut memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu hayat atau biologi. Beliau menulis secara luas tentang biologi. At-Tusi menempatkan dirinya sebagai perintis awal dalam evolusi biologi. Dia memulakan teorinya tentang evolusi dengan alam semesta yang terdiri dari elemen-eleman yang sama dan mirip. Menurutnya, kontradiksi internal mulai tampak , dan sebagai sebuah hasil, beberapa zat mulai berkembang lebih cepat dan berbeda dengan zat lain. Beliau lalu menjelaskan bagaimana elemen-elemen berkembang menjadi mineral kemudian tanaman, kemudian haiwan dan kemudian manusia. Di juga menjelaskan bagaimana variabiliti heriditi merupakan faktor penting dalam evolusi biologi mahluk hidup.
c.
Kimia
At-Tusi juga Berjaya mengungkapkan versi awal tentang hukum kekekalan massa. Inilah salah satu sumbangannya yang paling penting dalam ilmu kimia. Menurutnya zat dalam tubuh tidak boleh sepenuhnya menghilang. Zat itu hanya mengubah bentuk, kondisi, komposisi, warna dan bentuk lainnya yang berbeda.
At-Tusi juga Berjaya mengungkapkan versi awal tentang hukum kekekalan massa. Inilah salah satu sumbangannya yang paling penting dalam ilmu kimia. Menurutnya zat dalam tubuh tidak boleh sepenuhnya menghilang. Zat itu hanya mengubah bentuk, kondisi, komposisi, warna dan bentuk lainnya yang berbeda.
d.
Matematik
Selain menghasilkan rumus sinus pada segitiga, at-Tusi juga seorang ahli matematik pertama yang memisahkan trigonometri sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari matematik.
Selain menghasilkan rumus sinus pada segitiga, at-Tusi juga seorang ahli matematik pertama yang memisahkan trigonometri sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari matematik.
[1] Penulis Mustadrakul
Wasail menukil dari Riyadhul Ulama’ bahwa Khajah
Nashiruddin Tusi berasal dari sebuah desa di daerah Dastgerd yang bernama
Varsha dan Dastgerd adalah bagian dari Johrud. Pada zaman itu, Johrud adalah
bagian dari Sava; tapi kini termasuk bagian dari Qom. Silahkan merujuk:
Muhammad Mudaresi Zanjani, Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah
Nashiruddin Tusi, hlm 1.
[16] Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht
va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 30.
[17]
Murtadha
Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 22-23.
[18]
Kemasyhuran
Khajah Nashiruddin Tusi sampai terdengar ke negri Mongolia. Manggughan meminta
saudaranya, Hulaku, untuk mengirimkan Khajah Nashiruddin Tusi kepadanya untuk
mengerjakan pekerjaan-pekerjaan astronomi. Akan tetapi Hulaku tidak memenuhi
permintaan saudaranya. Silahkan merujuk: Muhammad bin Muhammad Tusi, Akhlak
e Nashiri, hlm 20.
[19]
Ibid, hlm 21.
[20]
Ibid, hlm 22.
[21]
Murtadha
Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 24.
[22]
Muhammad
Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 36.
[23]
Ibid.
[24]
Muhammad bin
Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 24.
[25]
Muhammad
Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 38.
[26]
Muhammad bin
Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 24.
[27]
Ibid.
[28]
Murtadha
Yusefi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 27.
[29]
Muhammad bin
Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 27.
[30]
Shirin
Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm 191.
[31]
Murtadha
Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 27-28.
[32]
Muhammad bin
Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 27.
[33]
Muhammad
Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 63.
[34]
Ibid, hlm 64;
Abbasi Qumi, Fawaidu Radhawiyah-dar Ahval e Olama e Mazhab e Ja’fariye,
hlm 604.
[35]
Muhammad bin
Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 28; Muhammad
Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 64.
[36]
Muhammad
Mudaresi Zanjani, Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
Tusi, hlm 27-28.
[37]
Hendri
Korben, Tarikh e Falsafe e Eslami, hlm 453.
[38]
Muhammad
Mudaresi Zanjani, Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
Tusi, hlm 26-27.
[39]
Murtadha
Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 21.
[40]
Hendri
Korben, Tarikh e Falsafe e Eslami, hlm 450.
[41]
Muhammad bin
Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 248.
[42]
Murtadha
Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 68.
[43]
Muhammad
Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 59.
[44]
Muhammad bin Muhammad
Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 29.
[45]
Shirin
Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm 122.
[46]
Ibid, hlm 122,
180, 191.
[48]
Muhammad
Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 5.
[49]
Shirin
Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm 189.
[50]
Muhsin Al
Amin, A’yanus Syiah, hlm 415.
[51]
Muhammad
Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 30.
[52]
Muhammad bin
Muhammad Nashiruddin Tusi, Aushaful Asyraf, hlm 8.
[53]
Silahkan
merujuk: Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm
15.
[58]
Ibid, hlm 414.
[61]
Muhammad
Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 55.
[65]
Ibid; Muhammad
Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin
e Tusi, hlm 93.