Jumat, 11 April 2014

Makalah Filsafat Islam NASIRUDDIN AT - TUSI



BAB II
ISI
1.      Biografi Nasiruddin At - Tusi
     Ia adalah Muhammad  putra Muhammad  putra Hasan Tusi. Ia juga disebut dengan Abu Ja’far, juga Nashiruddin. Lahir di dunia pada hari sabtu 11 Jumadil Awal 597 H. yang bertepatan pada 18 Februari 1201. Beliau lahir di Tus. Keluarganya, sebagaimana yang disebutkan oleh para sejarawan, berasal dari Johrud.[1] Ayah beliau adalah Muhammad bin Hasan, seorang alim, faqih dan ahli hadis yang terkenal di Tus. Karena beliau bermazhab Syiah, Khajah Nashiruddin Tusi juga bermazhab Syiah. Ia sejak kecil berguru pada ustad-ustad dan ulama Syiah.[2]
     Berdasarkan yang kami ketahui, sejak Khajah masih kecil dan berusia remaja, ayahnya selalu memberikan perhatian khusus dan memprioritaskan pendidikan untuk anaknya. Mulanya ayah beliau yang mengajari Al Qur’an kepadannya, lalu ilmu bahasa Arab dan yang berkaitan dengannya seperti Nahwu, Sharaf dan Sastra. Kemudian sang ayah menyarankan beliau untuk belajar Matematika dan berguru pada Kamaluddin Muhammad Hasib. Beliau juga berguru pada ayahnya dalam Fiqih dan Hadis. Adapun Ilmu Mantiq dan Falsafah, beliau berguru pada paman dari ibunya yang bernama Shahabuddin Ali bin Abi Mansur.[3]
     Pada suatu hari, yang mana saat itu Khajah masih seorang remaja, Kamaluddin Muhammad Hasib pergi meninggalkan Tus. Ayahnya juga meninggal dunia. Sebelum ayah beliau meninggal, sang ayah berwasiat kepadah Khajah untuk pergi ke luar kota dalam rangka menuntut ilmu. Karena Neishabur di zaman itu merupakan kota pusat keilmuan dan tempat para ulama, Khajah berhijrah ke kota itu.
Di Neishabur Khajah berguru pada Fariduddin Damad Neishaburi. Beliau mempelajari kitab Isyarat Ibnu Sina darinya.[4] Di sana beliau juga berguru beberapa waktu pada beberapa alim seperti Qutbuddin Mishri, Kamaluddin Yunesi Moseli dan Abu Sa’adat Esfahani.[5]
     Beliau sangat mencintai berbagai macam ilmu pengetahuan. Namun, beliau lebih cenderung memperdalam Ilmu Kalam dan Falasafah. Beliau sendiri bercerita: “Sebagaimana yang diwasiatkan sang ayah, aku memilih untuk berhijrah ke luar kota. Dalam setiap bidang ilmu, saat aku menemukan seorang guru, aku berguru padanya. Tapi karena aku punya ketertarikan tersendiri dalam hal membedakan mana yang benar dan salah, aku lebih cenderung untuk memperdalam ilmu-ilmu seperti Falsafah dan Kalam.”[6]
     Belum berusia 20 tahun Khajah Nashiruddin Tusi sudah pandai dalam Matematika, Nujum, Fiqih, Ushul Fiqih, Falsafah dan Kalam.[7] Kegigihannya dalam belajar membuat beliau menjadi orang yang mahir baik dalam bidang ilmuaqli maupun ilmu naqli. Beliau adalah pakar dalam berbagai ilmu di zamannya, khususnya dalam Falsafah, Kalam dan Matematika; sehingga beliau dijuluki dengan Ustadul Basyar (guru para manusia—pent.) Kemasyhuran Khajah dalam keilmuannya bertepatan dengan peristiwa penyerangan Gengis Khan yang pertama pada tahun 616 H. dan kekalahan Sultan Muhammad Khwarazmshah. Peristiwa itu membuat tanah air Iran, khususnya Khurasan, diselimuti kekacauan dan ketakutan. Oleh karenanya, sebagaimana orang-orang lainnya, Khajah memilih untuk pergi meningalkan tanah air dan singgah di tempat yang aman. Mulanya beliau pergi ke Iraq; lalu saat kembali, ia singgah untuk bertemu Shahabuddin, kemudian dari situ ia menuju ke Khurasan. Saat itu Nashiruddin Abdurrahim bin Abi Manshur—seorang alim yang mashyhur di Qahestan dan berkedudukan di istana Alauddin Muhammad bin Hasan, raja Ismailiyun, dan juga pernah mendengar kemasyhuran Khajah Nashiruddin Tusi dalam keilmuannya—mendengar berita pengungsian Khajah[8] dan ia memintanya untuk tinggal di istana Qahestan.[9] Khajah menerima ajakannya dan pergi menuju Qahestan. Setiba di sana, Nashiruddin Abdurrahman menyambut Khajah dengan sebaik-baiknya, memberinya berbagai kemudahan dan fasilitas, selalu bersikap ramah padanya dan benar-benar memanfaatkan keberadaan dan keilmuannya.[10] Nashiruddin Abdurrahman juga seringkali bermusyawarah dengannya dalam banyak hal.
     Pada masa itu, Khajah Nashiruddin Tusi menerima permintaan Nashiruddin Abdurrahman untuk menerjemahkan kitab Atthaharatul A’raq Ibnu Maskawaih ke dalam bahasa Farsi. Karena ia ingin kitab tersebut diterjemahkan untuk diamalkan, beliau menahmbahkan beberapa bagian yang kebanyakan pembahasannya berkisar pada politik dan tata Negara. [11]Beliau menyusun kitabRisalah Mainiyah (sebuah kitab tentang astronomi yang dipercaya sebagai karya Muinuddin putra Nasiruddin) di tempat itu pula. Selama beliau di Qahestan, beliau selalu sibuk mengkaji kitab-kitab, menulis, menyusun dan menerjemahkan.[12]
     Khajah pernah membacakan sebuah qasidah (semacam syair) pujian berbahasa Arab tentang Al Mu’tashim Billah, Khalifah dinasti Abbasiah, dan mengirimkannya ke Baghdad kepada Muayiduddin Ibnul Alqami, mentri Mu’tashim; kemudian ia meminta Khajah menuliskannya dan menunjukkannya kepada Khalifah barangkali khalifah akan memintanya untuk tinggal di Baghdad. Ibnul Alqami adalah seorang yang bermazhab Syiah seperti Khajah Nashiruddin. Saat itu ia kurang setuju jika Khajah pergi menuju Baghdad.[13] Dalam sebuah surat yang ditulis untuk Nashiruddin Abdurrahman, Ibnul Alqami menceritakan surat-menyurat yang dilakukan Khajah Nashiruddin dengan Khalifah. Oleh karenanya Nashiruddin Abdurrahman membenci Khajah lalu memenjarakannya.
Pada saat itu Alauddin Muhammad adalah raja Ismailyun. Ia meminta Khajah dari Nashiruddin Abdurrahman. Pada suatu hari saat Nashiruddin Abdurrahman pergi meninggalkan Qahestan menuju Qazvin, Alauddin membawa Khajah bersamanya ke kota raja. Alauddin mengidap suatu penyakit yang membuatnya selalu berburuk sangka dan membenci semua orang. Tapi selama Khajah bersamanya, ia tidak membenci Khajah bahkan selalu menghormatinya.[14] Mulai saat itu Khajah Nashiruddin Tusi tinggal di sana dan sering menghabiskan waktunya untuk membaca di perpustakaan kota itu.[15] Keadaan Khajah yang seperti itu terus berlangsung hingga terbunuhnya Alauddin dan digantikannya ia dengan Ruknuddin Khevarshah.
     Meskipun Khajah Nashiruddin Tusi memiliki kedudukan yang mulia selama beliau tinggal bersama bangsa Ismailiyun  (seperti menjabat sebagai mentri dan lain sebagainya),[16] akan tetapi beliau selalu menjauhi kenikmatan-kenikmatan duniawi dan kesenangan materi yang ada; beliau lebih sering menghabiskan waktunya untuk membaca, menulis, menerjemahkan dan kegiatan-kegiatan ilmiah lainnya. Sehingga lahir karya-karya beliau seperti Syarhul Isyarat, Risalah Muiniyah, Asasul Iqtibas, Risalah Tula va Tabra, Tahrir Iqlidus dan Tahrir Aqramanalus.[17]
Di masa kerajaan Ruknuddin, terjadi perubahan lain lagi pada kehidupan Khajah Nashiruddin Tusi: Hulaku Khan mengirim pasukan dan menyerang Iran. Setelah menguasai benteng demi benteng, ia sampai di Alamaut (sebuah benteng atau istana yang saat itu Khajah Nashiruddin Tusi berada di situ) kemudian Meimun Dez (istana yang mana Ruknuddin tinggal di dalamnya). Ruknuddin menyerah. Bersama Khajah dan juga beberapa orang lainnya dibawa menuju istana Hulaku Khan. Sultan Mongol sejak sebelumnya telah mengenal nama Khajah Nashiruddin Tusi karena kemasyhurannya dalam Falsafah dan Matematika, juga kepandaiannya dalam menggunakan zij wa rashad (tabel astronomi yang sering digunakan pada masa itu).[18] Sultan Mongol lebih tertarik lagi kepada beliau karena desakan Khajah terhadap Ruknuddin untuk menerima kewarganegaraan orang-orang Mongol dalam pemerintahan dan birokrasi juga pemberian pajak kepada mereka. Sultan juga tertarik padanya karena ramalannya mengenai kehancuran Ismailiyun dan dorongannya terhadap Hulaku Khan untuk menguasai benteng. Sultan juga sangat berpegang pada hukum-hukum ilmu nujum dan selalu meminta pendapat dari para ahli nujum; oleh karenanya ia memberikan kedudukan ini kepada Khajah dan memintanya bekerja untuknya.[19]
     Jadi mulanya Khajah berlindung di istana-istana Ismailiyun saat peristiwa penyerangan Gengis Khan yang pertama, lalu pada penyerangan kedua, yakni invasi Hulaku Khan, ia terbebaskan dari penjara dan berhasil mendapatkan kedudukan istimewa di istana Hulaku Khan: menjadi ahli nujum khusus untuknya.[20] Mulai saat itu ia mulai menjadi orang yang istimewa bagi Hulaku Khan; dia selalu meminta pendapat dari Khajah sebelum menjalankan urusan penting.[21]
     Satu perkara yang sangat sensitif dalam kehidupan Khajah di waktu itu adalah peranannya dalam menjatuhkan kekhilafahan Al Mu’tashim Billah, khalifah terakhir dinasti Abbasiyah. Mengenai masalah ini disebutkan dalam beberapa kitab sejarah bahwa setelah Hulaku Khan menguasai benteng-benteng dan istana-istana Ismailiyun di Qazvin, ia pergi ke Hamadan. Ia ragu-ragu untuk mengirim pasukan dalam rangka menyerang Baghdad; oleh karena itu ia mulai meminta pertimbangan dan musyawarah. Hisamuddin Munajim (salah satu ahli nujumnya) berkata kepada Hulaku Khan bahwa tidak baik untuk menyerang istana Baghdad; karena setiap raja yang berniat menyerang dinasti Abbasiyah pasti tidak mendapatkan apa-apa.[22] Akan tetapi Khajah berkata kepadanya bahwa tidak akan terjadi apa-apa selain tergulingkannya khalifah dan digantikan dengan Hulaku Khan. Lalu ia menjelaskan bahwa banyak tokoh besar Islam yang telah syahid dan tidak timbul keburukan apa-apa.[23]
     Ketika Hulaku Khan membabi buta dan benar-benar mendesak untuk membunuh khalifah, banyak yang mencegahnya dan berkata bahwa mengotori pedang dengan darah khalifah akan menimbulkan gejolak dan kebangkitan umum.[24]
     Hisamuddin Munajim berkata, “Jika khalifah terbunuh, alam semesta akan menjadi gelap dan akan terlihat pertanda-pertanda kiamat.”[25] Hulaku Khan mulai gugup mendengar perkataannya lalu bermusyawarah dengan Khajah Nashiruddin. Khajah berkata, “Peredaran alam semesta bertumpu pada tabiatnya. Banyak orang-orang yang lebih mulia dari Khalifah Bani Abbas yang terbunuh tapi alam semesta tetap terjaga…”[26] Hulaku Khan menyukai pendapatnya dan akhirnya khalifah terbunuh. Setelah itu Khajah diperintahkan Hulaku Khan untuk mendeklarasikan kemenangannya.
     Setelah Hulaku Khan menjadikan Maraqe sebagai ibu kota pada tahun 657 H., ia memerintahkan dibangunnya observatorium untuk para ahli nujum. Ia menjadikan tempat itu sebagai tempat bekerja Khajah Nashiruddin. Ia memberikan hak kepadanya untuk memanfaatkan ilmuan lainnya dalam perkara-perkara yang ia butuhkan. Jika Khajah membutuhkan suatu peralatan atau kebutuhan lainnya, ia dipersilahkan untuk memerintahkan para pekerja di bawahnya.[27] Sejak saat itu, selain mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ilmiah seperti menulis dan mengajara, ia juga memiliki kesibukan di observatorium, musyawarah dengan Ilkhan Mongol dan menyelesaikan urusan-urusan istana.
     Selain kesibukan sehari-hari di observatoriumnya, Khajah juga memiliki kegiatan penting lainnya: beliau membangun sebuah perputakaan besar berkat usaha beliau mengumpulkan kitab-kitab berharga baik yang kuno maupun yang baru yang kebanyakan kitab-kitab tersebut berasal dari Baghdad, Syam dan daerah-daerah kekuasaan Hulaku Khan yang lain. Jumlah kitab-kitab tersebut kira-kira empat ratus ribu jilid. Yang lebih menakjubkan lagi, observatorium tempat Khajah bekerja ia jadikan sebagai pusat keilmuan dan penelitian; ia mengajak para ilmuan dan ulama Muslim dari berbagai daerah untuk berkumpul di situ dan sibuk mengerjakan kegiatan-kegiatan ilmiah.[28]
     Pada masa itu Khajah diperintahkan Hulaku Khan untuk mengawasi kelompok yang terbentuk untuk membuat zij (semacam tabel astronomi di zaman dahulu—pent.) Ia menuliskan hasil penelitian-penelitian ilmiahnya seputar perbintangan atau nujum dalam sebuah kitab tebal yang dikenal dengan Zij Ilkhani. Penyusunan kitab tersebut usai pada tahun 670 H., yakni tujuh tahun sepeninggal Hulaku Khan dan tergantikannya dia dengan Abaqahkan.[29]
     Sepeninggal Hulaku Khan, Khajah Nashiruddin tetap menjaga posisi dan kedudukan materi serta maknawinya. Saat Abaqakhan menjadi pengganti Hulaku Khan, Khajah tetap menjadi orang terdekat dengan raja dalam bermusyawarah.[30] Khajah tetap melanjutkan aktifitas-aktifitasnya seperti dulu.
     Kegiatan lain beliau dalam masalah keagamaan salah satunya adalah penulisan sebuah kitab yang bertujuan untuk menetapkan kebenaran mazhab Syiah Imamiyah Itsna Asyariah. Kitab-kitab tersebut seperti: Tajridul I’tiqad, Qawaidul Aqaid dan Resale e Emamat.[31]
     Karena Khajah juga termasuk seorang mentri dalam kerajaan Ilkhan, maka kegiatan dan aktifitasnya tidak hanya terbatas di ibu kota saja; Khajah banyak bepergian ke tempat-tempat lainnya. Misalnya pada tahun 662 H. beliau pergi ke Baghdad dengan tujuan mengumpulkan sebisa mungkin kitab-kitab yang tersisa di ssana untuk disimpan di Maraqe. Beliau juga pergi ke tempat-tempat lainnya seperti Wasith, Bashrah dan kota-kota Iraq yang lainnya untuk mengerjakan urusan-urusan kerajaan seperti kunjungan dalam rangka mencari informasi tentang keadaan rakyat yang tinggal di suatu daerah tertentu, urusan-urusan dengan para tentara, mengumpulkan kitab-kitab dan lain sebagainya. Kemudian saat urusannya selesai ia kembali ke Maraqe.[32]
     Pada tahun 672 H. Khajah ikut bersama sultan Abaqakhan bersama rombongannya menuju Baghdad untuk menghabiskan musim dingin di sana. Lalu saat musim dingin usai dan Abaqakhan kembali ke ibu kota musim panasnya, Maraqe, Khajah tetap tinggal di Baghdad untuk mengerjakan tugasnya.[33] Di sana beliau mengumpulkan informasi mengenai penduduk setempat tapi saat itulah ia jatuh sakit. Saat ia memahami bahwa penyakitnya sudah tidak dapat disembuhkan lagi, ia berwasiat kepada orang-orang terdekatnya jika ia mati untuk dimakamkan di dekat makam Imam Musa bin Ja’far as. Salah satu orang terdekatnya berkata, “Bagaimana jika jasad muliamu kami kuburkan di Najaf saja?” Khajah menjawab, “Saya malu kepada Imam Musa bin Ja’far. Saya mati di dekat makamnya tapi dikuburkan di tempat lain.”[34]
     Akhirnya pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 672 H., dan bertepatan pada hari Idul Ghadir, Khajah menghembuskan nafas terakhirnya. Sebagaimana yang ia wasiatkan sebelumnya, sahabat-sahabatnya mulai sibuk menggali makam untuknya di dekat makam suci Imam Musa Al Kadzim as. Beberapa ahli sejarah menjelaskan bahwa ketika mereka hendak menggali kubur untuknya, mereka menemukan kuburan kosong yang telah disiapkan lengkap dengan batu nisan dan ukiran; kuburan itu pernah dibuat untuk khalifah Annashir Lidinillah, tapi khalifah dikuburkan di tempat lain.
     Demikianlah Khajah Nashiruddin Tusi meninggal dunia di Kadzimain dan di batu nisan makamnya tertulis ayat 18 dari surah Al Kahfi.[35]

2.      Orang-Orang yang Berhubungan dengan Khajah
1.      Anak-Anak dan Para Cucu
     Khajah Nashiruddin Tusi memiliki tiga anak lelaki: Shadraddun Ali, Ashiluddin Hasan dan Fakhruddin Ahmad. Shadraddun Ali adalah pengganti sang ayah sepeninggalnya. Beberapa masa sebelum dan sesudah kepergian ayahnya, Shadraddun Ali sempat menjadi pimpinan di observatorium Maraqe. Selain ia memiliki kepandaian ilmiah, dari segi seni ia juga seorang penyair hebat. Ashiluddin Hasan adalah seorang sastrawan, ilmuan dan insinyur. Ia sangat mahir di bidang sastra. Sepeninggal ayah dan kakaknya, atas perintah Iljaytu ia menjadi pimpinan di observatorium Maraqe. Fakhruddin Ahmad juga tak jauh beda dengan kedua saudaranya; ia adalah seorang yang terkenal kepandaian dan keilmuannya.
     Banyak pula orang-orang keturunan Khajah Nashiruddin Tusi yang tinggal di Ordubad dan Azarbaijan yang juga mendapatkan jabatan dalam pemerintahan saat itu. Mereka seperti Hatim Bik Ordubadi yang pernah mendapatkan julukan kehormatan dari Abbas I’timad Dawlah yang pada saat itu julukan tersebut sebanding dengan julukan Shadru A’dzam.[36]

2.      Para Murid Khajah
     Selain keturunan beliau dari segi silsilah, banyak juga keturunan beliau dari segi pemikiran dan keilmuan. Semasa hayatnya, Khajah sering mengajar dan memiliki banyak murid. Di antara mereka adalah:
a.          Jamaluddin Abu Manshur Husain bin Muthahar Hilli
     Ia juga dikenal dengan Allamah Hilli. Ia sama seperti Khajah Nashiruddin, sama-sama mengalami peristiwa penyerangan tentara Mongol dan memiliki peran yang tak jauh beda dari peran gurunya. Sebagaimana yang dicatat oleh sejarawan Syiah, dialog-dialog yang dilakukan oleh Allamah Hilli di masa Uljaitu begitu efektif sehingga menyebabkan diresmikannya mazhab Syiah di Iran dan keluar dari kefakuman sebelumnya.[37]
b.         Kamaluddin Maitsam Bahrani
     Diriwayatkan bahwa Kamaluddin Maitsam adalah murid Nashiruddin dalam Falsafah dan Nashiruddin murid Kamaluddin Maitsam dalam Fiqih. Tidak hanya itu, Kamaluddin juga guru Allamah Hilli. Ada lima belas karya yang ia tinggalkan yang beberapa di antaranya berkenaan dengan masalah keimaman. Ia lebih dikenal dengan orang yang pernah menuliskan syarah Nahjul Balaghah yang jumlahnya lebih dari dua puluh jilid.
     Banyak lagi murid-murid beliau yang kita tidak perlu menjelaskannya satu per satu di sini; kita hanya menyebutkan nama mereka saja: Sayid Ghiyatsuddin Abul Mudzafar, Abul Fadhail Hasan bin Muhammad Astarabadi, Kamaluddin Abduraza yang dikenal dengan Ibnul Fauti (seorang sejarawan abad ke-7 H.), Ibrahim bin Syaikh Sa’aduddin Juwaini yang dikenal dengan Hamui, Syaikh Fariduddin Abu Bakar bin Ali Syirazi dan juga Abdullah Atsiruddin Umani.[38]



3.       Akar-Akar Pemikiran Nasiruddin At - Tusi
     Setiap orang memiliki pemikiran yang terpengaruh oleh lingkungan alam dan lingkungan sosial tempat ia berada. Begitu pula dengan Khajah; pola pikir, keilmuan, keyakinan-keyakinannya, semuanya tidak diragukan dipengaruhi oleh lingkungan hidupnya. Di sini mari kita membahas lingkungan keluarga dan sosial khajah yang memberikan pengaruh-pengaruh tertentu terhadap pemikiran beliau.
1.      Aqidah dan Keyakinan
     Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa Khajah Nashiruddin Tusi lahir dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang bermazhab Syiah, oleh karenanya beliau sering berguru pada ustad-ustad berfahan Syiah. Berangkat dari pemahaman yang telah ditanamkan di kalbu Khajah sejak kecil, lambat laun beliau dengan sendirinya memperdalam dan mengkokohkan keyakinannya hingga tercipta keyakinan agama yang matang.
     Secara global dapat dikatakan bahwa dalam hayatnya, Khajah memiliki dua tujuan utama. Pertama adalah berdakwah dan menyebarkan ajaran Syiah Imamiah Itsna Asyariah; dan yang kedua adalah mengkaji ilmu-ilmu lainnya baiknaqli maupun aqli, juga menyebarkannya. Ia menyebarkan Syiah dengan cara menguatkan pondasi-pondasi pemikiran aqidah Syiah dengan menggunakan kaidah-kaidah rasional. Dalam rangka ini, beliau menulis beberapa kitab yang di antaranya adalah, Tajridul I’tiqad, Resale e Emamat, dan lain sebagainya. Beliau juga memperkokoh pemeikiran kalam Syiah Imamiah Itsna Asyariah dengan menguatkan dalil-dalilnya.[39] Beliau sangat ahli dalam menetapkan kebenaran mazhabnya dengan menggunakan dalil-dalil yang kuat dan diterima.



2.      Keahlian dalam Bidang Falsafah
     Sejak kecil beliau memang digiring untuk terus menimba ilmu. Usaha yang beliau upayakan untuk menggali ilmu memang tidak bisa dipungkiri. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa beliau adalah pencakup ilmu-ilmu. Di masa hayatnya ia termasuk orang yang ahli di berbagai macam bidang keilmuan.[40] Meski beliau tertarik di banyak bidang, tapi, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya, beliau memiliki ketertarikan tersendiri dan lebih kepada ilmu Kalam dan Falsafah. Di antara para tokoh filsuf, Khajah memiliki kecenderungan lebih kepada Farabi dan kebanyakan pemikiran falsafinya terpengaruh oleh pemikiran-pemikiranHakim Tsani, Abu Nashr Farabi. Oleh karena itu banyak sekali kesamaan pemikiran antara beliau dengan Farabi. Ia sendiri memberikan pengakuannya tentang ini; dalam makalah ketiga Akhlak e Nashiri beliau berkata, “Kebanyakan yang tertulis dalam makalah ini adalah tukilan dari pemikiran Farabi.”[41]
     Khajah juga sangat menerima pemikiran-pemikiran Syaikh Rais Abu Ali Sina (Ibnu Sina) dan tidak ditemukan dalam tulisan-tulisan Khajah pernyataan yang menjelaskan pertentangan beliau dengan Ibnu Sina.[42] Tidak hanya itu, banyak juga bukti-bukti dalam karyanya yang menunjukkan bahwa beliau juga mendapatkan pengaruh-pengaruh dari Ghazali dan Ibnu Maqfa’.



4.      Pengalaman-Pengalaman Hidup
     Melihat sejarah hidupnya, yang mana sejak muda beliau telah melakukan banyak perjalanan ke kota-kota tertentu untuk menimba ilmu, begitu juga tinggalnya beliau di istana-istana Ismailiyun, keberadaannya di istana Hulaku Khan dan Abaqakhan menunjukkan bahwa beliau orang yang memiliki banyak pengalaman penting dalam hidupnya. Bukti pengalaman-pengalaman ini dapat disaksikan dalam karya-karya tulis maupun pengamalan ilmu yang beliau dapatkan dalam panggung politik, khususnya saat beliau berada di istana Ismailiyun yang mana pada waktu itu beliau menambah bobot karya tulisnya, Akhlak e Nashiri. Dalam peristiwa-peristiwa genting seperti penyerangan tentara Mongol, beliau berhasil melewati semuanya dengan baik dan bahkan mendapatkan tempat yang lebih baik setelahnya sehingga beliau dapat memberikan pelayanan-pelayanannya luar biasa bagi masyarakat dan pengikut mazhab Syiah.

1.      Khajah Nashiruddin Tusi dalam Pentas Sejarah
     Khajah Nashiruddin Tusi adalah orang yang berparas rupawan dan berperagai baik. Pemurah, penyabar, berpenampilan baik, cendikia, cerdik namun rendah hati.[43] Ia memiliki keahlian di berbagai bidang keilmuan di zamannya. Beliau juga telah mempersembahkan berbagai karyanya sehingga mungkin jumlahnya ada seratus buah karya (baik kitab maupun risalah).[44]
     Khajah juga seorang yang gigih mengetuk pintu demi pintu kekuasaan di zamannya untuk mewujudkan tujuan-tujuan politik dan budaya yang memiliki gambaran tertentu di benaknya. Mulanya ia melibatkan diri di pemerintahan Ismailiyun; pada masa ini Khajah benar-benar dapat memanfaatkan pemikiran-pemikiran falsafi mereka dan memuaskan hasrat rasa ingin tahunya. Setelah itu ia juga berusaha menembus pintu pemerintahan Khalifah; tapi karena ada Ibnu Alqami yang menyainginya, ia tidak berhasil. Kemudian ia berhasil menempatkan diri di pemerintahan Mongol; ia meraih peranan yang sangat istimewa dan kedudukan yang tinggi.[45]
     Dengan menguasai ekonomi kekuasaan Ilkhani, Khajah tampil di medan politik dan keilmuan. Di tengah-tengah aktifitas politiknya beliau memberikan kekuatan untuk para pengikut mazhab Syiah Itsna Asyariah. Ia menjaga sisitim pemerintahan dari kehancuran dan bahkan melengkapinya dengan kesempurnaan. Begitu juga saat ia mempercayakan keluarga Juwaini dalam urusan pemerintahan, dengan bijak ia membebaskan tangan mereka untuk melakukan apa yang terbaik dalam pekerjaan mereka; dan tanpa ada rasa iri dan takut tersaingi khajah membangun hubungan baik dengan mereka. Di saat-saat tertentu saat mereka memiliki suatu keputusan, Khajah pun mendukungnya. Inilah salah satu sebab kemakmuran Iran dan keterjagaannya dari kehancuran. Ia juga menunjukkan peranannya dalam menjaga tanah air kecintaan dengan memberikan wewenang-wewenang pemerintahan kepada anak-anak dan orang-orang yang sepemikiran dengannya.[46]
     Pada masa itulah ia menjalankan peranan pentingnya untuk keterjagaan Iran. Ia adalah satu-satunya orang terbesar yang menjalani peran penting itu. Pada hakikatnya, apa yang ia lakukan adalah menghidupkan dua perkara yang sangat besar:
a.       mazhab Syiah yang saat itu merupakan mazhab yang mendarah daging bagi rakyat Iran.
     Sebelumnya pemikiran Syiah mengalami kefakuman akibat berkuasanya kekhilafahan Sunni di Iran untuk beberapa lama. Berkat jasa Khajah, Syiah menjadi pemikiran yang dapat dibanggakan dalam perkara kemasyarakatan bahkan politik. Lalu lambat laun akar-akarnya semakin kuat tertanam yang kelak menjadi mazhab resmi negri Iran.
b.      Berdirinya pusat keilmuan dan kesenian Maraqe.
     Yang mana dapat dikatakan bahwa itulah kazanah tempat terkumpulnya keilmuan dan kesenian Iran sejak awal hingga zaman itu.[47] Tempat itu adalah tempat terpenting ketiga dari dua pusat keilmuan dan kesenian yang telah dibangun sebelumnya: yang pertama adalah pusat keilmuan dan kesenian Jundi Shapur yang telah berdiri di Iran jauh sebelum kedatangan Islam, dan yang kedua adalah Madrasah Nidzamiyah yang telah didirikan oleh Nidzamul Malak Tusi di Baghdad.[48] Khajah Rasyiduddin Fadhlullah Hamadani menyebut upaya itu sebagai upaya dan usaha yang sangat luar biasa. Khajah mengumpulkan segala peninggalan dan karya-karya seni yang ia temukan di berbagai daerah di Iran dan mengabadikannya di Maraqe. Tidak hanya itu, Khajah juga mengumpulkan para seniman, ilmuan dan ulama dari berbagai daerah di Maraqe yang hasilnya adalah berbaurnya budaya barat dan timur dalam kesenian dan kebudayaan baru yang lebih unggul untuk tampil di panggung dunia. Salah satu contoh dari usaha tersebut adalah terbangunnya observatorium Maraqe.[49] Observatorium dan perpustakaan besar Maraqeh adalah karya luar biasa yang bukan hanya khayalan.

2.      Khajah di Mata Iran
     Khajah Nashiruddin Tusi termasuk orang yang meninggalkan nama baik untuk selalu dikenang oleh orang-orang setelahnya. Allamah Hilli mengenai luasnya lautan ilmu yang beliau kuasai berkata, “Syaikh ini adalah orang pertama di zamannya yang menguasai berbagai ilmu baik aqli maupun naqli.” Ia juga berkata, “Ia adalah ustad semua manusia dan akal ke-sebelas.”[50]
     Begitu pula mengenai keagungan akhlaknya ia berkata, “Dari segi perangai, ia adalah orang yang berperangai paling baik yang pernah kami lihat.”[51]
     Qadhi Nurullah Shustari—seorang ulama yang pernah hidup di India—begitu memuji keahlian Khajah Nashiruddin Tusi dalam bidang falsafah seakan beliau tidak ada tandingannya; ia selalu menjadi rujukan orang-orang besar, berwawasan luas dan memiliki kecerdasan luar biasa.[52]
     Baru-baru ini pun almarhum Mujtaba Mainawi pernah menyebut Khajah sebagai alhi filsafat dan hikmat terbaik di negri timur dan juga ahli matematika serta astronomi terbaik di dunia. Menurutnya, Khajah bagaikan Firdausi; yakni selalu menciptakan inovasi dan hal-hal baru.[53]
     Sebelum dan sesudah Revolusi Islami Iran sering ditulis makalah-makalah dan diadakan seminar-seminar mengenai beliau. Juga dibangun sebuah universitas dengan namanya yang mana hal tersebut menunjukkan betapa tingginya martabat Khajah dalam keilmuan.
     Kedudukan dan martabat Khajah Nashiruddin Tusi dalam sejarah politik Iran tidak dapat dipungkiri. Khajah adalah orang yang berjasa besar bagi Iran dan rakyat Iran yang mana semuanya berhutang kepadanya. Oleh karena itu ia dikatakan mirip dengan Firdausi. Kalau Firdausi menghidupkan kembali bangsa ajam, yakni orang-orang Iran, maka Khajah adalah orang yang menghidupkan kembali kebudayaan Iran setelah penyerangan Mongol. Ia adalah orang yang mengumpulkan kembali karya-karya seni dan cerminan-cerminan kebudayaan Iran yang hampir mati lalu memercikkan ruh kehidupan kepadanya.[54]

3.      Khajah dalam Peradaban Islam
     Dalam dunia Islam, Khajah dikenal dengan dua hal yang secara lahiriah berbeda jauh: yang pertama beliau dikenal oleh orang-orang Sunni dan ulamanya sebagai pembangkang yang menyebabkan hancurnya kekhilafahan Abbasiah dan terbunuhnya sang Khalifah; sehingga orang-orang seperti Ibnu Taimiyah Hanbali dan muridnya Ibnu Qayim sangat menggebu dalam mencemoohnya.[55] Tapi di sisi lain, karena berbagai jasanya, banyak ulama baik dari kalangan Syiah maupun Sunni yang memujinya.
     Quthbuddin Akshwari berkata, “Khajah adalah orang yang pandai dan tinggi ilmunya sehingga semua orang, baik yang berada dalam kelompoknya maupun lawannya, tunduk kepadanya karena mendengar dalil-dalil masuk akal yang dibawakan beliau juga karena ayat dan riwayat yang ia bawakan; begitu juga semua orang tunduk saat merujuk kepadanya.”[56]
     Shafadi dalam syarah Ummat Ajam berkata, “Ia adalah orang yang tidak ada satupun di zamannya yang melebihinya dalam Almagest (sebuah istilah dalam ilmu Astronomi).”[57] Fadhil Jabali dalam mukadimah Kasyful Dzunun, saat menyebutkan penulis-penulis terbaik dalam pandangannya, ia meletakkan Muhaqqiq Tusi dalam urutan pertama.[58] Ibnu Ibri dalam kitab Mukhtasharud Duwal berkata, “Di adalah seorang filsuf agung yang menguatkan pemikiran-pemikiran para terdahulu dan menumpas keraguan-keraguan para pemikir baru.”[59]
     Ibnu Syakir berkata tentangnya: “Khajah orang yang berpandangan lurus, rupawan, dermawan, bijaksana, berpergaulan baik, cerdas, dan termasuk cendikiawan di zamannya.”
     Dengan pendekatan yang Khajah lakukan kepada Hulaku Khan, ia dapat membela kepentingan-kepentingan para pemeluk mazhab Syiah, para alawi dan ulama. Ia berbuat baik kepada mereka, memperkerjakan mereka, menggunakan hak keuangan yang dimilikinya dengan baik untuk kemaslahatan bersama; dan dengan keadaan seperti itu beliau tetap rendah hati, murah senyum dan selalu bersikap baik dalam pergaulannya.[60]
     Abdurrazziq Lahiji mengakui bahwa Syarah Isyarat milik Ibnu Sina milik Khajah Nashiruddin Tusi adalah tulisan terbaik di antara tulisan-tulisan seputar pemikiran Ibnu Sina.
     Sering terdengar bahwa para penyusun Rijalus Syiah yang dikenal selalu meragukan para perawi hadis mengecualikan Khajah; mereka menganggapnya sebagai orang terpercaya. Mereka memberikan berbagai julukan untuk Khajah yang di antaranya seperti Syaikhus Tsiqat wal Ajila’Hujatul Firqatin Najiyah,Muassisu Asasid DinMan Intahat Ilaihi Riyasatul Imamah dan lain sebagainya.[61]
4.      Khajah dalam Kaca Mata Barat
     Kemakrufan Khajah di dunia barat kebanyakan karena karya-karya ilmiah dan pengamalan beliau. Misalnya Teiko Brahe dengan mencontoh observatorium Maraqe, mampu membangun observatorium yang dikenal dengan Ozaninberg di Denmark. Karya-karya beliau dalam Matematika dan Geometri khususnya yang membuat beliau terpandang di mata ilmuan barat. George Sarten menyebut Khajah sebagai ahli matematika terbaik di dunia Islam. Broklemen seorang ilmuan Jerman berkata, “Ia adalah ilmuan terbesar di abad ke-7 dan penulis terbaik di abad itu.”[62]
     Hendri Korben juga berkata, “Jika ajaran dan pemikiran Ibnu Sina terus terjaga, sebab pertamanya adalah keberadaan Khajah Nashiruddin Tusi.”[63]
     Karena Khajah adalah orang pertama yang melepaskan ilmu Trigeometri dan memisahkannya dari ilmu Falak, maka tidak heran jika dalam buku-buku seputar  Trigeometri sering disebut nama beliau. Auguste Comte dalam penanggalan khusus yang dibuatnya, menjadikan nama Ibnu Sina dan Khajah Nashiruddin Tusi sebagai nama hari dalam penanggalan itu.[64] Begitu juga untuk menghormati Khajah, para ilmuan Barat memeberi nama salah satu gunung di bulan dengan namanya.[65]















5.      Hasil karya Nasiruddin At – Tusi
     Meskipun  Nasiruddin At-Tusi tidak mampu mencegah daripada terjadinya serangan bangsa Mongol ke atas Baghdad, paling tidak Nasiruddin berjaya menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hulagu dikatakan sangat bangga kerana berjaya menakluki Baghdad dan lebih bangga lagi kerana ilmuwan terkemuka seperti at-Tusi boleh bergabung bersamanya. Hulagu juga amat gembira, ketika Nasirrudin mengungkapkan rencananya untuk membangunkan Observatorium di Malagha. Saat itu, Hulagu telah menjadikan Malagha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada tahun 1259, al-Tusi pun mulai membangun Observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang. Observatorium Malagha mulai beroperasi pada tahun 1262. Pembangunan dan operasi Observatorium itu melibatkan sarjana dari Parsi dan  dibantu oleh  ahli-ahli astronomi dari China. Tekonologi yang digunakan di Observatorium itu adalah yang tercanggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi peneropong angkasa yang digunakan di Observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah kuadran azimuth.
     Selain itu, beliau juga membangunkan perpustakaan di Observatoriumnya itu. Koleksi bukunya sangat lengkap, terdiri dari berbagai ilmu pengetahuan. Di tempat itu, at-Tusi tidak hanya mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematik serta falsafah. Di Observatorium yang dipimpinnya itu, at-Tusi berhasil membuat jadual pergerakan planet yang sangat tepat. Sumbangan lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-i Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Parsi dan  diterjemahkan  ke dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin Obeservatorium Malagha. Selain itu, at-Tusi juga berjaya menulis kitab terkemuka lainnya berudul Al-Tadhkira fi’ilm Al-hay’a (Memoir Astronomi). Nasiruddin mampul memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Beliau wafat pada 26 Jun 1274 di Baghdad. Meskipun begitu, jasa dan penglibatannyanya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang sehingga ke hari ini.
1.      Karya dan Pencapaian Nasiruddin at-Tusi
a.       Selama mendedikasikan hidupnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, Nasiruddin At-Tusi telah menulis berbagai jenis kitab yang mengupas bermacam ilmu pengetahuan. Di antara kitab yang Berjaya ditulisnya itu antara lain; kitab Tajrid-al-’Aqaid, sebuah kajian tentang Ilmu Kalam; serta Al-Tadhkirah fi’ilm al-hay’ah, sebuah memoir tentang ilmu astronomi.
b.      Kitab tentang astronomi yang ditulis Nasiruddin itu banyak mendapat komentar dari pakar-pakar astronomi. Komentar-komentar itu dibukukan dalam sebuah buku berjudul Sharh al-Tadhkirah (Sebuah Komentar atas Al-Tadhkirah) yang ditulis Abd al-Ali ibn Muhammad ibn al-Husayn al-Birjandi dan Nazzam Nishapuri.
c.       Selain itu, Nasiruddin juga menulis kitab berjudul Akhlaq-i-Nasri yang mengupas tentang etika. Kitab lainnya yang tidak kurang popularnya  adalah Al-Risalah Al-Asturlabiyah (Risalah Astrolabe). Kitab ini mengupas tentang peralatan yang digunakan dalam astronomi. Di bidang astronomi, Nasiruddin juga menulis risalah yang amat populer, yakni Zij-i ilkhani (Ilkhanic Tables). Ia juga menulis Sharh Al-Isharat, sebuah kritik terhadap hasil kerja Ibnu Sina.
d.      Selama tinggal di Nishapur, Nasiruddin memiliki reputasi yang cemerlang, sebagai ilmuwan yang berbeza dari yang lain. Pencapaian mengagumkan yang berjaya dilakarkan oleh  Nasiruddin dalam bidang matematik adalah  berkenaan dengan penghasilan rumus sinus untuk segitiga, yakni; a / sin A = b / sin B = c / sin C.
e.       penghasilan rumus sinus untuk segitiga, yakni; a / sin A = b / sin B = c / sin C.
2.      Kontribusi Sang Ilmuwan bagi  Sains
a.         Astronomi
     Beliau menulis beragam kitab yang mengupas tentang Astronomi. al-Tusi juga membangunkan observatorium yang mampu menghasilkan jadual pergerakan planet secara tepat. Model sistem plenaterium yang dibuatnya diyakini paling maju pada zamannya. Dia juga berhasil menemukan sebuah teknik geometrik yang dikenal dengan al-Tusi-couple. Sejarah juga mencatat, at-Tusi sebagai ahli astronomi pertama yang Berjaya mengungkapkan bukti observasi empiris tentang rotasi Bumi.
b.        Biologi
     Beliau juga turut memberikan sumbangan dalam pengembangan ilmu hayat atau biologi. Beliau menulis secara luas tentang biologi.  At-Tusi  menempatkan dirinya sebagai perintis awal dalam evolusi biologi. Dia memulakan teorinya tentang evolusi dengan alam semesta yang terdiri dari elemen-eleman yang sama dan mirip. Menurutnya, kontradiksi internal mulai tampak , dan sebagai sebuah hasil, beberapa zat mulai berkembang lebih cepat dan berbeda dengan zat lain. Beliau lalu menjelaskan bagaimana elemen-elemen berkembang menjadi mineral kemudian tanaman, kemudian haiwan dan kemudian manusia. Di juga menjelaskan bagaimana variabiliti heriditi merupakan faktor penting dalam evolusi biologi mahluk hidup.

c.         Kimia
     At-Tusi  juga Berjaya mengungkapkan versi awal tentang hukum kekekalan massa. Inilah salah satu sumbangannya yang paling penting dalam ilmu kimia. Menurutnya zat dalam tubuh tidak boleh sepenuhnya menghilang. Zat itu hanya mengubah bentuk, kondisi, komposisi, warna dan bentuk lainnya yang berbeda.
d.        Matematik
     Selain menghasilkan rumus sinus pada segitiga,  at-Tusi  juga  seorang  ahli matematik pertama yang memisahkan trigonometri sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari matematik.


[1] Penulis Mustadrakul Wasail menukil dari Riyadhul Ulama’ bahwa Khajah Nashiruddin Tusi berasal dari sebuah desa di daerah Dastgerd yang bernama Varsha dan Dastgerd adalah bagian dari Johrud. Pada zaman itu, Johrud adalah bagian dari Sava; tapi kini termasuk bagian dari Qom. Silahkan merujuk: Muhammad Mudaresi Zanjani, Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 1.
[2] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 15.
[3] Muhsin Al Amin, A’yanus Syiah, hlm 415.
[4] Ali Asghar Halbi, Tarikh e Falasefe e Irani az Aghaz e Eslam ta Emruz, hlm 564-565.
[5] Ali Akbar Dehkoda, Loghat Name e Dehkoda.
[6] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Majmue e Rasael-Seir va Soluk, hlm 39.
[7] Abdurrafi’ Hakikat, Tarikh e Nehzat ha e Fekri e Iraniyan, hlm 637.
[8] Abdurrafi’ Hakikat, Tarikh e Nehzat ha e Fekri e Iraniyan, hlm 638.
[9] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 15.
[10] Muhsin Al Amin, A’yanus Syiah, hlm 415.
[11] Murtadha Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 22.
[12] Abdurrafi’ Hakikat, Tarikh e Nehzat ha e Fekri e Iranian, hlm 638.
[13] Muhammd bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 20.
[14] Muhammd bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 21.
[15] Abdurrafi’ Hakikat, Tarikh e Nehzat ha e Fekri e Iranian, hlm 638.
[16] Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 30.
[17] Murtadha Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 22-23.
[18] Kemasyhuran Khajah Nashiruddin Tusi sampai terdengar ke negri Mongolia. Manggughan meminta saudaranya, Hulaku, untuk mengirimkan Khajah Nashiruddin Tusi kepadanya untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan astronomi. Akan tetapi Hulaku tidak memenuhi permintaan saudaranya. Silahkan merujuk: Muhammad bin Muhammad Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 20.
[19] Ibid, hlm 21.
[20] Ibid, hlm 22.
[21] Murtadha Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 24.
[22] Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 36.
[23] Ibid.
[24] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 24.
[25] Muhammad Mudarisi (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 38.
[26] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 24.
[27] Ibid.
[28] Murtadha Yusefi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 27.
[29] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 27.
[30] Shirin Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm 191.
[31] Murtadha Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 27-28.
[32] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 27.
[33] Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 63.
[34] Ibid, hlm 64; Abbasi Qumi, Fawaidu Radhawiyah-dar Ahval e Olama e Mazhab e Ja’fariye, hlm 604.
[35] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 28; Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 64.
[36] Muhammad Mudaresi Zanjani, Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 27-28.
[37] Hendri Korben, Tarikh e Falsafe e Eslami, hlm 453.
[38] Muhammad Mudaresi Zanjani, Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 26-27.
[39] Murtadha Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 21.
[40] Hendri Korben, Tarikh e Falsafe e Eslami, hlm 450.
[41] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 248.
[42] Murtadha Yosufi Rad, Andishe e Siyasi e Khajah Nashiruddin Tusi, hlm 68.
[43] Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 59.
[44] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 29.
[45] Shirin Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm 122.
[46] Ibid, hlm 122, 180, 191.
[47] Shirin Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm 189.
[48] Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 5.
[49] Shirin Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm 189.
[50] Muhsin Al Amin, A’yanus Syiah, hlm 415.
[51] Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 30.
[52] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Aushaful Asyraf, hlm 8.
[53] Silahkan merujuk: Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 15.
[54] Shirin Bayani, Moghulan va Hokumat e Ilkhani, hlm189.
[55] Abdurrafi’ Hakikat, Tarikh e Nehzat ha e Fekri e Iraniyan, hlm 658.
[56] Abbasi Qumi, Fawaidu Radhawiyah-dar Ahval e Olama e Mazhab e Ja’fariye, hlm 604.
[57] Muhsin Al Amin, A’yanus Syiah, hlm 415.
[58] Ibid, hlm 414.
[59] Ibid.hlm 414.
[60] Muhsin Al Amin, A’yanus Syiah, hlm 415.
[61] Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 55.
[62] Muhsin Al Amin, A’yanus Syiah, hlm 414.
[63] Hendri Korben, Tarikh e Falsafe e Eslami, hlm 541.
[64] Muhammad bin Muhammad Nashiruddin Tusi, Akhlak e Nashiri, hlm 29.
[65] Ibid; Muhammad Mudarris (Zanjani), Sargozasht va Aqaed e Falsafi e Khajah Nashiruddin e Tusi, hlm 93.